caseforest
ORDER NEW SOLUTIONS
 
Loading
     
Pengaruh Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak Terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Sektor Pertambanga 
 
Category: MBA catalogue 1 | Word(s): 1891 | Page(s): 8 | View(s): 755 | Rank: 0
 
PENGARUH KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK TERHADAP PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM SEKTOR PERTAMBANGAN DAN INDEKS LQ 45 DI BURSA EFEK INDONESIA

I.    Latar Belakang
Tepat pada tanggal 24 Mei 2008 pemerintah Indonesia mengumumkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), yang merupakan komoditas yang memegang peranan sangat penting dalam semua aktivitas ekonomi. Kenaikan harga ini memberikan dampak yang bermacam-macam, mulai dari aksi penentangan dari masyarakat, terutama kalangan mahasiswa, sampai dengan kenaikan harga di sejumlah sektor ekonomi.
Bagi dunia usaha, dampak kenaikan harga BBM juga dirasakan dengan naiknya biaya produksi sehingga meningkatkan biaya secara keseluruhan dan mengakibatkan kenaikan harga pokok produksi antara lain yaitu meningkatnya biaya bahan baku, biaya angkut, serta kenaikan upah karyawan, yang pada akhirnya menaikkan harga jual produk dan menurunkan keuntungan perusahaan.
Rencana kenaikan harga BBM sebenarnya sudah mulai terdengar dan mencuat beritanya sejak awal tahun 2008, ketika harga minyak dunia melambung tinggi di pasaran dan mencapai rekor tertinggi yaitu lebih dari US$100 per barel. Kenaikan harga minyak dunia tersebut disebabkan sejumlah faktor, diantaranya adanya persepsi rendahnya cadangan minyak yang ada saat ini di pasaran dan adanya kekhawatiran atas ketidakmampuan peningkatan produksi dari negara-negara produsen minyak.
Kenaikan harga minyak dunia yang semakin tidak terkendali tersebut kemudian direspon oleh seluruh negara di dunia, termasuk salah satunya adalah Indonesia. Pemerintah Indonesia, yang kala itu dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan berdasarkan persetujuan DPR akhirnya memutuskan untuk menaikkan harga BBM di Indonesia yaitu sekitar 30%. Pemerintah berdalih harus menaikkan harga BBM dikarenakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit akibat pemberian subisidi BBM yang terlalu tinggi kepada masyarakat. Untuk menutupi defisit tersebut, pemerintah merasa harus mengurangi porsi subsidi yang diberikan kepada masyarakat agar dapat mencerminkan harga minyak dunia yang saat ini bergejolak di pasar.
Kondisi ini kemudian mempengaruhi iklim investasi di Indonesia secara keseluruhan. Dalam jangka pendek, kenaikan harga BBM tersebut disikapi para pelaku pasar, khususnya pelaku pasar modal sebagai indikator investasi. Berdasarkan argumen tersebut, maka sangatlah mungkin reaksi negatif dari para pelaku pasar modal dapat terjadi setelah pengumuman kenaikan tersebut. Namun, jika yang terjadi sebaliknya yaitu bahwa kenaikan harga BBM justru direspon positif oleh pelaku pasar, maka kesimpulan sederhana yang dapat diambil dari dampak peristiwa pengumuman tersebut adalah bahwa naiknya harga BBM memberikan stimulus positif pada perekonomian Indonesia.
Pada dasarnya, para pelaku pasar, yang biasa disebut sebagai investor, akan berinvestasi pada saham perusahaan yang mampu memberikan tingkat pengembalian (return) yang dapat berupa deviden dan atau capital gain. Return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor untuk berinvestasi dan juga merupakan keberanian investor untuk menanggung risiko atas investasi yang dilakukannya. Tanpa melupakan faktor risiko investasi yang harus dicapainya, tujuan utama investor dalam berinvestasi tentunya adalah untuk memaksimalkan return yang dapat diperoleh investor. Oleh karena itu, perusahaan selalu berusaha untuk memberikan informasi mengenai tingkat pengembalian (return) sebagaimana yang diharapkan investor. Return ini kemudian akan mempengaruhi Indeks Harga Saham.
Dengan dasar penjelasan-penjelasan di atas, penelitian ini diharapkan dapat mendeteksi reaksi pasar yang dicerminkan oleh kenaikan harga BBM dengan menganalisa pada indikator indeks saham sektor pertambangan dan indeks LQ 45 di sekitar peristiwa diberlakukannya kenaikan harga BBM.
II.    Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, penelitian ini berusaha menganalisa apakah kebijakan kenaikan bahan bakar minyak memiliki pengaruh terhadap pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. Apakah dengan adanya kebijakan tersebut Indeks Saham Sektoral pada sektor perdagangan akan meningkat. Selain itu, penelitian ini berusaha menganalisa dampak kenaikan harga BBM di sektor lainnya melalui Indeks LQ 45 yang ada di Bursa Efek Indonesia.

III.    Tujuan Penelitian
    Penelitian ini memiliki tujuan:
1.    Menganalisa pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap pergerakan Indeks Saham Sektoral, yaitu pada sektor  pertambangan.
2.    Menganalisa pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap pergerakan perdagangan saham yang memiliki likuiditas dan kapitalisasi pasar yaitu melalui Indeks LQ 45.
IV.    Manfaat Penelitian
    Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang reaksi pasar modal terhadap adanya kebijakan kenaikan harga BBM. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfaat bagi para investor, pengamat pasar modal, dan akademisi untuk menambah wawasan mengenai reaksi pasar modal Indonesia akibat adanya kebijakan nasional.
V.    Pengumpulan Data Penelitian
    Metode pengambilan data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yaitu berupa data-data harga indeks saham sektoral dan indeks LQ45 antara 20 hari sebelum dan sesudah adanya kebijakan kenaikan harga BBM di bulan Mei-Juni 2008. Sumber data sekunder ini dapat diperoleh melalui situs www.idx.co.id.
VI.    Kerangka Teori
    Penelitian sebelumnya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada umumnya didasarkan pada pendekatan analisa fundamental perusahaan dengan berbasiskan laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan.
    Edi Subiyantoro (2003), dalam penelitiannya menyatakan bahwa dengan menggunakan analisa regresi dapat diketahui harga saham dipengaruhi oleh book value equity per share dan return equity. Faktor-faktor lain seperti return on asset, debt to equity ratio, stock return, market risk dan return on the market index tidak mempunyai pengaruh yang terlalu kuat terhadap variasi harga saham. Ini dapat berarti bahwa pergerakan harga saham yang variatif dapat ditentukan faktor-faktor lain.
    Faktor lain selain faktor fundamental, yang pada dasarnya berasal dari internal perusahaan, dapat juga berupa faktor eksternal seperti adanya intervensi pemerintah dengan menetapkan kebijakan-kebijakan sosial politik yang baru, kejadian-kejadian nasional, dan lain-lain.
    Studi empiris mengenai peran berita (news) atau isu yang mencuat di pasar valuta asing dirintis tiga dasawarsa yang lalu oleh Jacob A Frenkel (1981) dari University of Chicago. Kesimpulan Frenkel adalah mengenai pentingnya memasukkan variabel “news” ke dalam model berkaitan dengan faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi sejumlah kurs mata uang asing.
    Berita-berita sosial-politik semacam itu barangkali memang sudah menjadi bagian dari “news” yang merupakan risiko politik bagi investor. Survey yang dilaksanakan oleh Stephen Kobirin (1982) menunjukkan adanya perbedaan persepsi di kalangan investor tentang beratnya risiko yang diakibatkan oleh suatu jenis peristiwa yang sama. Risiko pengambilalihan aset menduduki ranking kedua sesudah pergolakan sosial di negara yang sedang berkembang. Sedangkan di negara maju pengambilaluhan aset hanya menduduki ranking enam dan pengendalian harga menduduki risiko ranking teratas. Sedangkan pergolakan sosial hanya menduduki ranking ke lima.
    Berdasarkan penjelasan yang diperoleh dari situs Bursa Efek Indonesia, www.idx.co.id, indeks harga saham adalah suatu indikator yang menunjukkan pergerakan harga saham. Indeks berfungsi sebagai indikator tren pasar, artinya pergerakan indeks menggambarkan kondisi pasar pada suatu saat, apakah pasar sedang aktif atau lesu. Dengan adanya indeks, kita dapat mengetahui tren pergerakan harga saham saat ini, apakah sedang naik, stabil atau turun. Pergerakan indeks menjadi indikator penting bagi para investor untuk menentukan apakah mereka akan menjual, menahan atau membeli suatu atau beberapa saham.
    Di Bursa Efek Indonesia terdapat 6 (enam) jenis indeks, antara lain:
1.    Indeks Individual, menggunakan indeks harga masing-masing saham terhadap harga dasarnya, atau indeks masing-masing saham yang tercatat di BEI.
2.    Indeks Harga Saham Sektoral, menggunakan semua saham yang termasuk dalam masing-masing sektor, misalnya sektor keuangan, pertambangan, dan lain-lain. Di BEI indeks sektoral terbagi atas sembilan sektor yaitu: pertanian, pertambangan, industri dasar, aneka industri, konsumsi, properti, infrastruktur, keuangan, perdagangan dan jasa, dan manufaktur.
3.    Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG (Composite Stock Price Index), menggunakan semua saham yang tercatat sebagai komponen penghitungan indeks.
4.    Indeks LQ 45, yaitu indeks yang terdiri 45 saham pilihan dengan mengacu kepada 2 variabel yaitu likuiditas perdagangan dan kapitalisasi pasar. Setiap 6 bulan terdapat saham-saham baru yang masuk kedalam LQ 45 tersebut.
5.    Indeks Syariah atau JII (Jakarta Islamic Index). JII merupakan indeks yang terdiri 30 saham mengakomodasi syariat investasi dalam Islam atau Indeks yang berdasarkan syariah Islam. Dengan kata lain, dalam Indeks ini dimasukkan saham-saham yang memenuhi kriteria investasi dalam syariat Islam. Saham-saham yang masuk dalam Indeks Syariah adalah emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah seperti:
•    Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang.
•    Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi) termasuk perbankan dan asuransi konvensional.
•    Usaha yang memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan makanan dan minuman yang tergolong haram
•    Usaha yang memproduksi, mendistribusi dan/atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat
6.    Indeks Papan Utama dan Papan Pengembangan. Yaitu indeks harga saham yang secara khusus didasarkan pada kelompok saham yang tercatat di BEI yaitu kelompok Papan Utama dan Papan Pengembangan.
7.    Indeks KOMPAS 100. merupakan Indeks Harga Saham hasil kerjasama Bursa Efek Indonesia dengan harian KOMPAS. Indeks ini meliputi 100 saham dengan proses penentuan sebagai berikut :
a.    Telah tercatat di BEJ minimal 3 bulan.
b.    Saham tersebut masuk dalam perhitungan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan).
c.    Berdasarkan pertimbangan faktor fundamental perusahaan dan pola perdagangan di bursa, BEI dapat menetapkan untuk mengeluarkan saham tersebut dalam proses perhitungan indeks harga 100 saham.
d.    Masuk dalam 150 saham dengan nilai transaksi dan frekwensi transaksi serta kapitalisasi pasar terbesar di Pasar Reguler, selama 12 bulan terakhir.
e.    Dari sebanyak 150 saham tersebut, kemudian diperkecil jumlahnya menjadi 60 saham dengan mempertimbangkan nilai transaksi terbesar.
f.    Dari sebanyak 90 saham yang tersisa, kemudian dipilih sebnyak 40 saham dengan mempertimbangkan kinerja: hari transaksi dan frekwensi transaksi serta nilai kapitalisasi pasar di pasar reguler, dengan proses sebagai berikut:
•    Dari 90 sisanya, akan dipilih 75 saham berdasarkan hari transaksi di pasar reguler.
•    Dari 75 saham tersebut akan dipilih 60 saham berdasarkan frekuensi transaksi di pasar reguler.
•    Dari 60 saham tersebut akan dipilih 40 saham berdasarkan Kapitalisasi Pasar.
g.    Daftar 100 saham diperoleh dengan menambahkan daftar saham dari hasil perhitungan butir (e) ditambah dengan daftar saham hasil perhitungan butir
h.    Daftar saham yang masuk dalam KOMPAS 100 akan diperbaharui sekali dalam 6 bulan, atau tepatnya pada bulan Februari dan pada bulan Agustus.
    Di dalam penelitian akan dibahas indeks saham sektoral dari sektor pertambangan dan indeks LQ 45, karena peneliti ingin menganalisa dampak dari kenaikan harga BBM terhadap industri pertambangan secara khusus dan industri lainnya yang diwakili oleh indeks LQ 45.
    Variabel-variabel yang digunakan untuk mendukung penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

       Variabel Bebas (independent variable)        Variabel Terikat (dependent variable)
Diagram Skematis
VII.    Hipotesis Penelitian
    Berdasarkan analisa dalam kerangka penelitian di atas, hipotesis yang akan dikembangkan dalam penelitian ini adalah:
    H1:     Kenaikan harga bahan bakar minyak memiliki dampak positif terhadap indeks         saham sektor pertambangan.
    H2:    Kenaikan harga bahan bakar minyak memiliki dampak negatif terhadap indeks         saham LQ 45
VIII.    Jenis Investigasi Penelitian
    Penelitian ini ingin menguji apakah terdapat pengaruh dari variabel kenaikan harga BBM dengan variabel pergerakan indeks saham sector pertambangan dan variabel pergerakan indeks LQ 45. Oleh karena itu, penelitian ini disimpulkan termasuk dalam jenis investigasi kausal.
IX.    Unit Analisis
    Unit yang dianalisa pada penelitian ini adalah kelompok, yaitu indeks gabungan perusahaan di sektor pertambangan dan indeks gabungan 45 perusahaan yang dikelompokkan berdasarkan tingkat likuiditas dan kapitalisasi pasar dalam indeks LQ 45.
X.    Tingkat Intervensi Peneliti
    Peneliti tidak melakukan intervensi selama penelitian melainkan hanya mengambil data perusahaan-perusahaan dan menganalisa data tersebut tanpa melakukan manipulasi data. Oleh karena itu, tingkat intervensi peneliti bersifat minimum.
XI.    Situasi Studi
    Dalam melakukan penelitian, peneliti tidak melakukan manipulasi kondisi pada variabel bebas yang diteliti. Penelitian dilakukan dalam situasi tidak diatur.
XII.     Horizon Waktu Studi
    Pengambilan data dalam penelitian dilakukan sekali dalam 1 periode penelitian dalam kurun waktu Mei-Juni 2008. Penelitian ini termasuk dalam studi cross-sectional.

DAFTAR PUSTAKA

Subiyantoro, Edi, 2003, “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham” Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Sep 2003/Vol 5/No 2.
http://www.idx.co.id/MainMenu/Education/IndeksHargaSahamObligasi/tabid/195/lang/id-ID/language/id-ID/Default.aspx
Sularso, R. Andi, “Pengaruh Pengumuman Dividen Terhadap Perubahan Harga Saham Sebelum dan Sesudah Ex-Dividen Date di Bursa Efek Jakarta”, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, May 2003/Vol. 5/ No. 1.
http://jurnalskripsitesis.wordpress.com/2007/10/31/dampak-kebijakan-kenaikan-harga-bahan-bakar-minyak-bbm-terhadap-perdagangan-saham-di-bursa-efek-jakarta-bej/
Sudarsono dan Suryanto, “News, Gejolak Sosial-Politik Dan Indeks Harga Saham Di Bursa Efek Jakarta”
Jacob A. Frenkel (1981), “Flexible Exchange Rates, Prices, and the Role of News” : Lesson from the 1970’s, Journal of Political Economy, 89 (4), August, 665-705.
Stephen J. Kobrin, (1978), “When Does Political Instability Result in Increased Investment Risk, Columbia Journal World Business, Fall 1978.
Saimi, Krishan, “Survey of the Quantitive Approaches to Country Risk Analysis”, Journal of Banking Finance, June 1984.
 
Add Comments
 
Heading:
Comments:
 
 
 
 
» Forgot Password?
» Create an account. click here
 
 
Saved Papers
Save Paper to find them more easily.
 
 
Order New Solution

Want a brand new solution for the case study? We have got it all right here.
Recent Topics
New Entries
Most Recent Request
Join Now
Ease your MBA workload and get more time for yourself